Pekan Imunisasi Nasional 2016

Icha, batita berusia 2,5 tahun itu memperhatikan balon kuning yang baru didapatnya setelah imunisasi polio di Balai Kota Bandung. Tulisan End Polio Now yang terpatri di balonnya itu dia tatap dengan senyum sumringah. Tentunya, Icha senang dengan balon baru miliknya, bukan dengan tulisan End Polio Now. Secara, Icha belum bisa baca tulis. Meskipun begitu, senyum Icha mencerminkan masa depannya yang cerah dan bebas dari Polio. Lebih dari itu, senyum Icha juga mewakili kebahagiaan Rotarian di Indonesia yang sedikit lagi mengakhiri keberadaan virus Polio di muka bumi ini.

Rotary pantas berbangga atas capaian ini. Pasalnya, organisasi kemanusiaan dunia ini secara resmi menyatakan perang dengan polio sejak 1985. Kala itu, Rotary mengumumkan program PolioPlus dan berkomitmen untuk mengimunisasi seluruh anak di dunia untuk melawan penyakit yang menyebabkan kelumpuhan permanen pada anak tersebut.

Proyek Polio sendiri pertama kali diinisiasi oleh Sergio Mulitsch pada 1984. Pada saat itu, Sergio sendiri merupakan Charter President Rotary Club Treviglio, Italia. Bersama Rotarian lainnya, dia mengirimkan 500 ribu vaksin anti polio ke Filipina. Atas inisiasi inilah, Rotary Internasional mengadopsi PolioPlus sebagai salah satu programnya.

PolioPlus sendiri bagaikan bola salju yang menggelinding dari atas bukit dan semakin membesar. Setelah organisasi kesehatan dunia WHO bergabung, program ini juga diadopsi oleh banyak negara, salah satunya Indonesia. Pada tahun ini, resolusi untuk melenyapkan Polio dari muka bumi akan segera terwujud berkat Rotary.

Meskipun begitu, perjuangan untuk melawan polio bukanlah hal yang mudah. Di beberapa negara, para Rotarian bahkan harus menghadapi kelompok garis keras bersenjata atas nama agama. Salah satunya adalah pengalaman Azis Menon, chairman National Polio Plus Committee di Pakistan, ketika menghadapi Taliban.

Taliban di Pakistan merupakan salah satu kerikil tajam yang menghambat perjuangan melawan polio. Mereka menolak vaksinasi dengan alasan: vaksin tersebut mengandung virus HIV, vaksin merupakan upaya pihak barat untuk mensterilisasi perempuan Pakistan, dan melawan polio sama dengan melawan kehendak Tuhan.

Bahkan, penolakan Taliban juga diekspresikan dalam bentuk bom bunuh diri di Pusat Vaksinasi Polio di Quetta, Pakistan, baru-baru ini.

Azis Menon sendiri pernah memiliki kesempatan untuk bertemu salah satu pemimpin Taliban di sebuah rumah sakit. Putra sang pemimpin Taliban yang baru 18 bulan tersebut telah menandatangani kontrak dengan virus polio dan dipastikan mengalami kelumpuhan permanen seumur hidupnya.

Kesempatan ini langsung digunakan Azis untuk berbincang-bincang dengan sang pemimpin Taliban. “Bila saja kamu memberikan dua tetes (vaksin polio),

tentunya dia (putra pemimpin taliban) sudah berlari kini,” ungkap Azis. Usai berdebat cukup panjang, akhirnya sang pemimpin Taliban menyesal dan memohon agar Azis menyembuhkan anaknya dengan memberikan empat tetes vaksin polio.

Sayangnya, semuanya sudah terlambat dan anaknya tetap mengalami kelumpuhan seumur hidupnya. Untuk menebus penyesalannya, sang pemimpin Taliban bersedia memberikan vaksin polio ke anak-anak lainnya di keluarga dan tetangganya.

Pengalaman yang tidak kalah menegangkan juga terjadi di banyak negara lainnya, termasuk Indonesia. Bahkan, kabarnya leher beberapa Rotarian pernah berjarak hanya beberapa sentimeter dengan senjata tajam di sebuah daerah di Indonesia beberapa tahun silam. Namun, kepedulian terhadap kemanusiaan membuat para Rotarian tidak pernah gentar untuk melawan polio.

Atas perjalanan panjang ini, tidak heran bila Rotarian di seluruh Indonesia begitu bersemangat untuk datang dalam peresmian PIN di kotanya masing-masing pada Senin, 8 Maret 2016 lalu. Seragam kaos End Polio Now berwarna kuning dan merah langsung memenuhi tempat imunisasi dari Sabang sampai Merauke. Mereka juga berlomba-lomba dalam memberikan dua tetes vaksin polio untuk anak-anak Indonesia.

Bagaimana pun, perjuangan untuk memberantas polio memang tidak mudah. Namun, jauh lebih tidak mudah untuk mempertahankan “zero polio” di Indonesia. Ke depan, Rotary di Indonesia punya pekerjaan yang lebih besar: menjaga anak-anak Indonesia agar bebas dari Polio, sehingga mereka bisa sebebas balon udara yang diterbangkan para Rotarian pagi itu di seluruh Indonesia.